Laporan Fieltrip 2018 Karantina makassar
LAPORAN FIELDTRIP
MANAJEMEN
KESEHATAN PEMBENIHAN IKAN
(PENANGGULANGAN
PENYAKIT)
Dosen : Suryati, S.Pi., M.Si
Modul : 6.3.1 Teknik Diagnose Penyakit
Virus Mrnggunakan Metode PCR
Laboran : Seniati
OLEH
ALVIANUS MA’DIKA
1622010316
PEMBENIHAN
BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu penyakit yang berbahaya dengan tingkat
kematian tinggi dan penyebaran yang luas adalah penyakit yang disebabkan virus.
Virus mampu menyerang ikan air tawar, payau, maupun ikan laut dalam berbagai
stadia.
Virus adalah mikroorganisme yang dapat menyebabkan
penyakit dengan ukuran tubuh antara 25-300 nanometer, sehingga hanya dapat
dilihat menggunakan microskop elektron. Virus tidak mempunyai perlengkapan
metabolik sendiri dan tidak mampu membangkitkan energi atau mensintesis
protein, sehingga kebutuhan pakan untuk memperbanyak diri sangat bergantung
pada inangnya. Pada saat itulah virus
menyebabkan kerusakan ataupun penyakit pada inangnya (Pelczar
dan Chan, 1988). Salah satu cara yang dapat digunakan
untuk mengidentifikasi penyakit akibat adanya virus atau bakteri adalah dengan
menggunakan metode PCR. Metode ini merupakan salah satu teknik molekular dalam
diagnosa penyakit.
Reaksi Polimerase Berantai atau
dikenal sebagai Polymerase Chain Reaction (PCR), merupakan suatu proses
sintesis enzimatik untuk melipatgandakan suatu sekuens nukleotida tertentu
secara in vitro. Metode ini dikembangkan pertama kali oleh Kary B. Mulis pada
tahun 1985. Metode ini sekarang telah banyak digunakan untuk berbagai macam manipulasi dan analisis genetic. Pada awal
perkembanganya metode ini hanya digunakan untuk melipatgandakan molekul DNA,
tetapi kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan pula untuk
melipatgandakan dan melakukan kuantitas molekul mRNA.
1.2 Tujuan
Untuk
mengetahui cara mendiagnosa penyakit virus dengan menggunakan metode PCR.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian PCR
PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode untuk amplifikasi potongan
DNA secara in vitro pada daerah spesifik yang dibatasi oleh
dua buah primer oligonukleotida. Teknik ini mampu memperbanyak sebuah urutan
105-106-kali lipat dari jumlah nanogram dari DNA template. Proses ini mirip
dengan proses replikasi DNA secara in vivo yang bersifat semi
konservatif.
B.
Cara
Kerja PCR
Ada 3 tahap dalam kerja PCR, yaitu:
·
Denaturing
adalah proses memisahkan 2 untai
pilinan DNA. Selama proses denaturasi, double stranded DNA akan membuka menjadi
single stranded DNA. Hal ini karena suhu tinggi menyebabkan putusnya ikatan
hidrogen diantara basa nitrogen yang komplemen. Tahap ini berlangsung sekitar 1
hingga 2 menit. Seluruh reaksi enzim tidak berjalan, misalnya reaksi
polimerisasi pada siklus yang sebelumnya. Denaturasi biasanya dilakukan antara
suhu 90 oC – 95 oC.
·
Annealing(
Penempelan Primer)
adalah tahapan dimana primer forward dan reverse mencari pasangannya di
untai-untai DNA. Jika cocok
maka primer akan
melekat.Pada
proses annealing ini, ikatan hidrogen akan terbentuk antara
primer dengan urutan komplemen pada template selama 1-2 menit. Proses ini
biasanya dilakukan pada suhu 50 oC – 60 oC.
Selanjutnya, DNA polymerase akan berikatan sehingga ikatan hidrogen tersebut
akan menjadi sangat kuat dan tidak akan putus kembali apabila dilakukan reaksi
polimerisasi selanjutnya, misalnya pada 72 oC.
·
Reaksi
Polimerisasi (extension) Umumnya, reaksi polimerisasi atau perpanjangan rantai ini,
terjadi pada suhu 72 oC selama 1 menit. Primer yang telah menempel tadi
akan mengalami perpanjangan pada sisi 3’nya dengan penambahan dNTP yang
komplemen dengan template oleh DNA polimerase.
BAB III
PELAKSANAAN
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal :
Pukul : 07.00-Selesai
Tempat : Balai besar karantina ikan dan
pengembangan mutu ikan, Makassar.
B.
Metode
Karantina Ikan
Metode Pengumpulan Data, Metode
yang di gunakan dalam kunjungan ini adalah wawancara. Wawancara merupakan cara
pengumpulan data dalam bentuk Tanya jawab/diskusi dengan pembimbing, teknisi,
staf pegawai dan pihak-pihak lain yang kompeten dalam bidangnya.
Adapun sumber data yang digunakan adalah sebagai berikut :
-
Data primer Yaitu data yang
bersumber dari dalam Balai Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan
Hasil Perikanan Makassar berupa wawancara terhadapbeberapa karyawan dan pada
beberapa referensi yang diambil di internet.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Virus
yang telah di diuji dibalai karantina dan pengembangan mutu ikan di Makassar
salah satunya yaitu:
·
KHV
·
VNN
·
WSSV
B. Pembahasan
Diagnosa Virus, Saat ini telah dikembangkan berbagai metode diagnosis
virus diantaranya metode konvensional seperti histopatologi, dotblot,
hibridisasi, in situ dan PCR dan RT-PCR. Metode diagnosis dengan PCR mungkin
merupakan salah satu metode yang cepat dan menjanjikan tingkat akurasi yang
tinggi dibandingkan metode lain. Sampel dapat disiapkan dalam awetan alkohol
70% dalam potongan kecil (0,5 cm), untuk PCR dan penggunaan formalin 10% untuk
pemeriksaan histopatologi (Nguyen, 1997).
Tahap-tahap mendiagnosa virus menggunaka
metode PCR adalah sebagai serikut:
Ø Isolasi
dan ekstraksi DNA dan RNA
Setelah diidentifikasi, sampel kemudian dibedah pada
bagian tertentu sesuai jenis ikan dan target yang biasa di serang oleh virus
tersebut. Tidak semua sampel yang dibedah namun hanya satu.Sampel yang
didapatkan akan diekstraksi untuk mendapatkan materi genetiknya (RNA atau DNA) yang
ada kemudian dilarutkan dengan 200 µl ddH2O (aquabides).
Ø Amplifikasi
Amplifikasi merupakan reaksi pelipatgandaan cDNA
target secara in vitro sehingga dapat dideteksi dengan elektroforesis (Anonim,
2011). Pada proses amplifikasi terjadi beberapa tahapan yakni denaturasi,
annealing dan pemanjangan dimana semua proses tersebut dipengaruhi oleh suhu
dan waktunya.
Ø Elektroforesis
Menurut Prasetyo (2009) elektroforesis adalah perpindahan molekul yang bermuatan
sebagai respon terhadap medan listrik. Angka perpindahan tergantung pada
kekuatan medan listrik, muatan listrik, ukuran dan bentuk molekul, kekuatan
ionik, viskositas, dan suhu medium yang digunakan oleh molekul tersebut untuk
berpindah. Ada bermacam-macam zat kimia yang digunakan
sebagai gel di dalam proses elektroforesis. Penggunaan jenis gel disesuaikan
dengan tujuan yang akan dicapai. Pada kesempatan ini hanya dua cara yang
digunakan dalam proses elektroforesis yaitu elektroforesis gel agarose (AGE).
Ø Visualisasi
Pita DNA
Pembacaan pita DNA yang terbentuk dengan menggunakan
UV transilluminator dilakukan dengan membandingkan pergerakan pita pada sampel
dengan kontrol positif dan negatife.
Jenis virus yang telah diuji
·
KHV (Koi herpes
virus)
Koi herpesvirus
(KHV) adalah virus yang menginfeksi ikan mas dan koi dan bersosiasi dengan
kematian massal (Hedrick et al. 2000).
·
VNN (Viral nervous
necrosis)
Viral Nervous
Necrosis (VNN), adalah jenis
virus Nodaviridae yang menyerang ikan kerapu, terutama pada stadia larva
dan benih. VNN dapat menyebabkan kematian massal hingga mencapai prevelensi
100% (Johnny et al., 2010; Suratmi dan Ni Luh, 2008).
·
WSSV (White Spot
Syndrome Virus)
WSSV adalah virus yang menyerang sistem organ dari
krustasea yang menyebabkan bercak putih pada permukaan eksternal udang
hingga menyebabkan kerugian berupa
kematian yang tinggi (mortalitas)
mencapai 100%. Udang yang
terserang penyakit ini dalam waktu singkat udang dapat mengalami kematian yang
sangat tinggi. WSSV merupakan virus yang
disebabkan oleh virus SEMBV dan termasuk golongan virus berbahan genetik DNA (Dioxyribonucleic Acid) berbentuk batang
(Bacilliform).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari laporan ini yaitu:
·
PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode untuk
amplifikasi potongan DNA secara in vitro pada daerah spesifik
yang dibatasi oleh dua buah primer oligonukleotida.
·
Ada tiga tahap cara kerja PCR : Denaturing, Annealing(
Penempelan Primer) dan Reaksi Polimerisasi (extension).
·
Tahap-tahap mendiagnosa virus menggunaka
metode PCR yaitu:
ü Isolasi
jaringan
ü Amplifikasi
ü Elekroforisis
ü Vitasualisassi
pita DNA
·
Jenis-jenis virus yang telah diuji: KHV,
VNN dan WSSV.

Komentar
Posting Komentar