Pengolahan Data Komputer 2018



TUGAS
TEKNOLOGI PEMBUATAN DAN PENGELOLAAN PAKAN INDUK DAN LARVA
Modul           : EVALUASI PAKAN
DOSEN        : Dr. Ir. Muh. Ikbal Illijas, M.Sc





OLEH :
ALVIANUS MADIKA
1622010316


MINAT PEMBENIHAN
JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

2018

EVALUASI MUTU PAKAN LARVA
Mutu pakan ikan dapat diketahui dengan cara pengujian kualitas. Pengujian ini dapat dilakukan dengan  beberapa cara, yaitu uji fisik, uji chemic (kimia), uji biologis, dan uji respon pada ikan. 
A.  Pengujian Fisik 
Pengujian fisik ini dilakukan dengan mengukur tingkat kehalusan bahan penyusunnya, kekerasan dan daya tahan hasil cetakan didalam air (water stability).
1.    Kehalusan
Kehalusan bahan penyusun pelet dapat dilihat dengan mata. Cara pengujian ini dilakukan dengan menggiling atau menghancurkan contoh pelet yang akan diuji. Alat penghancur yang digunakan dapat berupa gilingan daging yang plat penutupnya di buka (tidak dipasang), kemudian hasil gilingan tersebut diamati. Berdasarkan ukuran butirannya, maka tingkat kehalusan pelet dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: sangat halus, halus, agak kasar, kasar, sangat kasar, dan lain-lain. Makin halus bahan penyusun pelet, makin baik kualitasnya. Pakan ikan yang dibuat sendiri tidak perlu dilakukan uji fisik karena sejak bahan diseleksi sampai proses telah diketahui tingkat kehalusannya. 
2.    Kekerasan
Pengujian tingkat kepadatan (kekerasan) dapat dilakukan dengan memberi beban pada contoh pelet yang akan diuji. Pemberian beban ini dapat dilakukan dengan pemberat yang bobotnya berbeda-beda. Pelet yang diuji ditindih dengan beban pemberat paling ringan. Jika sampel tidak pecah, maka perlu diulang lagi dengan pemberat yang bobotnya lebih besar. Demikian seterusnya, pengujian ini diulang-ulang sampai pelet pecah saat ditindih dengan pemberat yang memiliki bobot tertentu. Pelet yang baik umumnya tingkat kekerasan cukup tinggi. Biasanya tingkat kekerasan berhubungan dengan tingkat kehalusan bahan penyusunnya. Makin halus bahan penyusun pelet, makin tinggi tingkat kekerasannya.

3.    Water Stability
Pengujian daya tahan (stabilitas) pelet dilakukan dengan cara merendam contoh pelet yang akan diuji selama beberapa waktu di dalam air. Tingkat daya tahan pelet dalam air (water stability) diukur sejak pelet direndam sampai pecah. Makin lama waktu yang dibutuhkan untuk membuyarkan pelet dalam proses perendaman, berarti makin baik mutunya. Pelet ikan yang baik mempunyai daya tahan dalam air minimal 10 menit. Sedangkan pelet pakan udang harus mempunyai daya tahan lebih lama lagi, yaitu sekitar 30 – 60 menit.  
B.  Pengujian Chemic (Kimia) 
Pengujian secara kimia dilakukan di laboratorium. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan ikan. Beberapa zat gizi yang perlu diketahui adalah kandungan protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar, dan kadar air serta energi. Pengujian kimia ini tidak perlu dilakukan sendiri, tetapi dapat mengirim sampel pelet (pakan) ikan yang akan diuji ke laboratorium kimia terdekat.  Pelet yang baik memiliki kadar air maksimal 10%, kandungan abu dan serat kasar maksimal 5%.  Sedangkan kandungan protein, lemak, dan karbohidrat tergantung kepada kebutuhan nutrisi ikan/udang yang akan diberi pakan. Sebagai patokan untuk pelet pakan ikan sebaiknya mengandung protein lebih dari 25%, lemak 5 – 7% dan karbohidrat antara 30 - 40% (lihat kebutuhan nutrisi ikan).
C.  Pengujian Biologi 
Setelah melakukan pengujian secara fisik dan secara kimiawi perlu juga dilakukan lainnya yaitu pengujian secara Biolodis. Pengujian biologis sangat penting terutama untuk milihat nilai Konversi Pakan (Feed Conversion Ratio). Nilai ini sebenarnya tidak merupakan angka mutlak, karena tidak hanya ditentukan oleh kualitas, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti jenis, ukuran ikan, kepadatan, kualitas air dll. Semakin kecil nilai konversi pakan, semakin baik kualitas pakan, karena akan semakin ekonomis. Untuk mengetahui nilai konversi pakan perlu dilakukan dilakukan pengujian lapangan pada berbagai tipe percobaan.
Pengujian biologis ini dapat dilakukan sesuai dengan tahapan kegiatan budidaya yakni :
1.      Pemeliharaan induk, pada fase tersebut ikan diberi pakan yang disebut pakan induk
2.      Pemeliharaan larva, pada fase tersebut ikan diberi pakan yang disebut pakan larva/benih
3.      Pemeliharaan pembesaran, pada fase tersebut ikan diberi pakan yang disebut pakan pembesaran (pakan ikan).   

Evaluasi terhadap pakan larva dapat dilihat dari perkembangan larva secara morphologis dan morphometrik.  
a.    Perkembangan Morphologis
Perkembangan larva dimulai dari fase makan dari endogen hingga fase makan dari eksogen atau mencapai benih muda, memerlukan waktu 55 sampai 60 hari (kasus pada kerapu macan). Ciri setiap perkembangan adalah sebagai berikut: fase makan endogen, yolk sac, umur 0 sampai 4 hari larva bergerak lambat menggunakan ekor, bukaan mulut sampai gigi taring mulai tumbuh, usus berbentuk tabung pendek, melanofora tumbuh menyebar dan mata belum berpigmen. Fase makan eksogen, umur 5 sampai dengan hari 22 ditandai dengan pertumbuhan duri punggung dan duri pelvik, warna tubuh mulai nampak dengan badan memendek dan kepala besar tidak simetris, usus terlihat berkembang ke arah dorsal dan bergerak secara peristaltik, sedangkan pigmen mata belum penuh (Purba dan Mayunar, 1995).
Kemampuan pemangsaan larva terhadap jumlah pakan yang besar juga dipengaruhi oleh pertumbuhan diameter mata. Pada periode larva pertumbuhan komponen morfometrik mengarah ke fungsi sinergis, seperti pertumbuhan lebar bukaan mulut, diameter mata dan panjang tubuh. Pertumbuhan komponen-komponen tersebut bersifat saling mendukung fungsi energetik, yakni pertumbuhan diameter mata dan lebar bukaan mulut untuk melihat dan memangsa pakan yang didukung oleh panjang tubuh dan sirip ekor untuk gerak aktif melakukan pemangsaan, sehingga yang diperoleh untuk pertumbuhan tercukupi (Gaughan dan Potter 1997). Diameter mata yang besar pada larva akan mampu mengakomodasi penglihatan menjadi lebih tajam, serta sangat sensitif menerima difraksi dan iluminasi cahaya dan aberasi warna dari cahaya kromatik, sehingga larva mampu mendeteksi keberadaan pakan secara tepat dari efek kekontrasan, kekeruhan dan warna lain (Fernald, 1993). Pertumbuhan diameter mata yang besar pada larva ikan laut bersifat substansial, karena berfungsi meningkatkan kemampuan streoskopik dari sudut reaksi penglihatan terhadap mangsa.  
b.   Perkembangan Morphometrik
 Pertumbuhan larva dalam hal ini digambarkan dari perkembangan larva, hal ini dapat dilihat dari jumlah pakan yang dikonsumsi larva, laju pertumbuhan morfometrik dan kelangsungan hidup larva. Jumlah pakan larva adalah total jumlah pakan yang berada dalam lambung yang dikonsumsi larva selama sehari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA LOGIN ke LMS POLITANI NEGERI PANGKEP | NasibKU

Desain Kolam dan cara menentukan Kapasitas debit air pada Akuakultur budidaya ikan nila

CARA BISNIS DAN MAU SUKSES MESKIPUN TIDAK MEMPUNYAI MODAL | gOPLAK.COM